Terlebih bagi bikers yang hendak melintasi jalur Pantura Pekalongan hingga Pati atau jalur lintas Semarang menuju Solo. Sebab, dua jalur tersebut memiliki tantangan tersendiri bagi bikers.
Kedua jalur tersebut, selain memiliki volume kendaraan yang tinggi juga memiliki kondisi geografi perbukitan. Sehingga diperlukan persiapan matang agar niat mulia bertemu keluarga tidak berubah menjadi bencana di bahu jalan.
Masalahnya, masih ada pengendara yang terlalu fokus pada persiapan ”oleh-oleh” atau baju baru, ketimbang kondisi kendaraannya. Padahal, motor yang akan dikendarai dari Semarang menuju Wonogiri atau dari Pekalongan menuju Pati akan bekerja ekstra keras melebihi rutinitas hariannya.
Misalnya, jika oli sudah hitam pekat, kampas rem tipis, dan rantai kering, motor akan ”protes” melalui mesin yang overheat, rem yang blong, rantai yang putus atau cvt selip tepat saat Bikers sedang memacu di tengah kepadatan arus mudik lebaran.
Murianews, Semarang – Ada ritual penting yang mesti dilakoni para bikers sebelum mudik, yakni memeriksa motor atau kendaraan yang akan digunakan.
Terlebih bagi bikers yang hendak melintasi jalur Pantura Pekalongan hingga Pati atau jalur lintas Semarang menuju Solo. Sebab, dua jalur tersebut memiliki tantangan tersendiri bagi bikers.
Kedua jalur tersebut, selain memiliki volume kendaraan yang tinggi juga memiliki kondisi geografi perbukitan. Sehingga diperlukan persiapan matang agar niat mulia bertemu keluarga tidak berubah menjadi bencana di bahu jalan.
Masalahnya, masih ada pengendara yang terlalu fokus pada persiapan ”oleh-oleh” atau baju baru, ketimbang kondisi kendaraannya. Padahal, motor yang akan dikendarai dari Semarang menuju Wonogiri atau dari Pekalongan menuju Pati akan bekerja ekstra keras melebihi rutinitas hariannya.
Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng Oke Desiyanto menjelaskan motor juga punya ”Batas Kesabaran”.
Misalnya, jika oli sudah hitam pekat, kampas rem tipis, dan rantai kering, motor akan ”protes” melalui mesin yang overheat, rem yang blong, rantai yang putus atau cvt selip tepat saat Bikers sedang memacu di tengah kepadatan arus mudik lebaran.
Empat Hal yang wajib diperhatikan...
Empat hal itu wajib diperhatikan untuk menjaga potensi keselamatan tetap maksimal. Pastikan empat komponen tersebut tidak melakukan aksi ”mogok kerja”:
Darah Mesin (Oli)
Jangan gunakan sisa oli bulan lalu. Mudik adalah perjalanan jarak jauh. Oli baru dapat menjaga suhu mesin stabil meskipun terjebak kemacetan di Jatingaleh atau jalur Alas Roban yang legendaris.
Sistem Penghenti (Rem)
Ingat! Jalur mudik di Jawa Tengah selalu penuh dengan kejutan. Mulai dari pengereman mendadak karena antrean hingga turunan curam. Jangan biarkan kampas rem motor memberikan ”kepastian palsu” saat dibutuhkan.
Kaki-Kaki (Ban dan Suspensi)
Ingat, saat mudik, motor biasanya memikul beban lebih (boncengan dan barang bawaan). Pastikan tekanan angin ban pas. Ban yang kempes saat membawa beban berat adalah resep utama terjadinya kecelakaan tunggal.
Sistem Penggerak (Rantai/V-Belt)
Bagi pengguna matik, cek kondisi V-belt. Jangan sampai ia ”putus hubungan” dengan mesin saat sedang menyalip truk di jalur pantura Pati.
Teknik Berkendara...
Selain motor, kendali ada pada diri bikers. Jika motor sudah sehat, teknik berkendara harus dijaga. Hindari membawa barang bawaan yang melebihi lebar setang atau terlalu tinggi dan terlalu panjang.
Sebab, membawa barang bawaan yang over akan mengubah center of gravity motor dan membuat motor sulit dikendalikan saat tertiup angin kencang atau crosswind, terutama saat melewati pesisir Pekalongan.
Ingat selalu pada tujuan mudik, yakni sampai ke rumah dengan aman dan selamat. Jadi, bukan sekadar cepat sampai.
Pastikan motor bersahabat sejak keberangkatan hingga kepulangan nanti. Sayangi nyawa Bikers, karena keluarga menunggu senyum Bikers di depan pintu rumah, bukan kabar yang lain.
”Motor adalah benda mati, tapi ia punya cara komunikasinya sendiri melalui suara kasar, getaran, atau panas mesin. Mendengarkan ’keluhan’ motor sebelum berangkat adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai kepala keluarga atau pribadi yang mandiri,” ujar Oke.